Minggu, 08 Desember 2019

Tekhnologi informasi dalam bk

Teknologi Informasi dalam Bimbingan dan Konseling


Menurut Haag dan Keen, Teknologi informasi adalah seperangkat alat yang membantu Anda bekerja dengan informasi dan melakukan tugas-tugas yang berhubungan dengan pemrosesan informasi.
Teknologi informasi diartikan sebagai perpaduan antara teknologi komputer dan telekomunikasi dengan teknologi lainnya seperti perangkat keras, perangkat lunak, database, teknologi jaringan, dan peralatan telekomunikasi lainnya (Sri Maharsi,2000).

Sedangkan bimbingan menurut Prayitno & Erman Amti, bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada seseorang atau beberapa orang individu, baik anak-anak, remaja, maupun dewasa agar orang-orang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri, dengan memanfaatkan kekuatan individu dan sarana yang ada dan dapat dikembangkan berdasarkan norma-norma yang berlaku. (Syamsul Hadi,2014)
Sedangkan Definisi Konseling menurut James P. Adam yang dikutip oleh Depdikbud, konseling adalah suatu pertalian timbal balik antara dua orang individu antara seorang (konselor) membantu yang lain (konseli) supaya dia dapat lebih baik memahami dirinya dalam hubunganya dengan masalah hidup yang dihadapinya pada waktu itu dan pada waktu yang akan datang. (Wahyu Aris Cahyono,2014)
Bisa di artikan bahwa tekhnologi informasi dalam bk adalah sistem informasi program program bimbingan dan konseling dengan menggunakan tekhnologi berbasis internet.agar mempermudah dalam publikasi program program bk pada masa kini masa dimana era android 4.0 sudah menjamur.dengan tujuan untuk mempermudah penggunaan dan pemahan secara menyel

Beberapa manfaat TI dalam BK yakni, mempermudah konselor dalam menyusun, mencari dan mengolah data, menjaga kerahasiaan suatu data, karena dengan teknologi memungkinkan untuk menguncinya dan tidak sembarang orang dapat mengaksesnya, membantu individu maupun kelompok untuk dapat berkomunikasi dengan lebih mudah dan relatif murah dalam pelaksanaan konseling, memberikan kesempatan kepada individu untuk berkomunikasi lebih baik dengan menggunakan informasi yang mereka terima tanpa bertemu secara langsung (E-Counseling),dan menjadikan teknologi informasi sebagai alat dalam suatu program kegiatan, sehingga kegiatan tersebut lebih teratur dan terstruktur. (Agung Primadika, 2015)
aplikasi teknologi informasi ini adalah mendapatkan informasi untuk kehidupan pribadi seperti informasi tentang kesehatan, hobi, rekreasi dan rohani.
  1. Peran TI dalam BK
    1. Fungsi TI dalam BK
Kedudukan teknologi informasi dalam bimbingan dan konseling berada di dalam layanan dukungan system. Ini berarti bahwa teknologi informasi menjadi salah satu sarana untuk mendukung layanan bimbingan dan konseling. Fungsi tersebut antara lain:
1)      Sebagai metode untuk menimgkatkan skill konselor/guru BK dalam memberikan layanan,sehingga siswa tidak merasa bosan dan jenuh.
2)      Sebagai sarana dan prasarana dukungan sistem terhadap pengembangan media layanan BK.
3)      Sebagai pemenuhan waktu dalam memberikan layanan.
4)      Membantu konseli dalam pemenuhan kebutuhan informasi.
Pentingnya teknologi informasi dalam bimbingan konseling menuntut konselor untuk dapat menguasai teknologi agar dapat memudahkan dalam pemberian pelayanan konseling kepada kliennya. Memanfaatkan TI bagi seorang guru sudah semakin urgen tampaknya, dan khusus bagi kita guru BK, banyak sekali kreasi yang dapat dibuat dalam melayani konseli.
Tekhnologi informasi memiliki beberapa fungsi dan peranan dalam Bimbingan konseling yaitu:
1)      Publikasi: disini teknologi informasi dimanfaatkan sebagai sarana pengenalan kepada masyarakat luas dan juga sebagai pemberi informasi mengenai BK.
2)      Pelayanan dan Bantuan: dalam fungsi ini Bimbingan konseling dilakukan secara tidak langsung dengan bantuan teknologi informasi.
3)      Pendidikan: dikatakan demikian karena di dalam informasi yang diberikan melalui sarana TI ini mengandung unsur pedidikannya.
  1. Manfaat
Secara garis besar Asra, dkk (2007) menjelaskan bahwa manfaat teknologi informasi dalam pembelajarana adalah untuk meningkatkan efektivitas dan keefisienan dalam proses pendidikan.

Dalam proses bimbingan dan konseling masih banyak yang belum mengetahui pemanfaatan media teknologi informasi untuk menunjang layanan bimbingan dan konseling. Konselor sekolah tidak semuanya mengerti atau paham tentang pengguanaan internet. Padahal internet merupakan media yang sangat efektif dalam proses layanan bimbingan dan konseling. Maka, perlu adanya suatu sosialisasi untuk meningkatkan kinerja konselor di sekolah dalam hal memanfaatkan kemajuan teknologi informasi agar nantinya bidang bimbingan dan konseling tidak lagi menjadi bidang layanan yang membosankan dan menjenuhkan. Tidak hanya konselor yang perlu diberikan sosialisasi. Para konseli yang dalam hal ini adalah siswa juga perku diberikan suatu sosialisasi agar kemajuan teknologi informasi tersebut bisa dimanfaatkan sesuai apa yang diharapkan. Dengan kata lain, teknologi informasi tersebut tidak disalahgunakan untuk hal yang negatif.
Jika konselor dan konseli sudah paham akan manfaat dan pentingnya teknologi informasi dalam menunjang proses layanan bimbingan dan konseling, maka ke depannya bimbingan dan konseling akan menjadi suatu bidang pendidikan yang inovatif dan efisien berkat kemajuan teknologi informasi namun tetap tidak menghilangkan esensi dari layanan bimbingan dan konseling itu sendiri.
  1. Kelebihan dan kekurang dalam pemafaatan Teknologi Informasi Dalam BK
1)      Kelebihan
a)      Konselor/guru Bk maupun konseli dapat lebih cepat mengakses semua informasi yang ada dan tidak harus melakukan proses konseling secara langsung atau face to face.
b)      Dapat membangun hubungan / interaksisosial dari jarak jauh.
c)      Sebagai metode pembelajaran yang menuntut kreativitas bagi buru BK dan tidak membuat siswa jenuh atau bosan.
Penggunaan komputer di kelas sebagai media bimbingan dan konseling menrut Baggerly memiliki keuntungan sebagai berikut:
a)      Akan meningkatkan kreativitas, meningkatkan keingintahuan dan memberikan variasi pengajaran, sehingga kelas akan menjadi lebih menarik;
b)      Akan meningkatkan kunjungan ke web site, terutama yang berhubungan dengan kebutuhan siswa;
c)      Konselor akan memiliki pandangan yang baik dan bijaksana terhadap materi yang diberikan;
d)      Akan memunculkan respon yang positif terhadap penggunaan email;
e)      Tidak akan memunculkan kebosanan;
f)        Dapat ditemukan silabus, kurikulum dan lain sebagainya melalui website; dan
g)      Terdapat pengaturan yang baik
2)      Kekurangan
a)      Pemanfaatan yang berlebihan (dalam hal negative, seperti penyalahgunaan situs porno, dsb).
b)      Tidak semua dapat menggunakan dan memahami TI dengan baik.
c)      Keterbatasan pada alat (computer dan line kabel internet).
  1. Bentuk-betuk TI yang digunakan dalam layanan Bk
Layanan bimbingan dan konseling tidak selalu face to face atau tatap muka. Terdapat layanan yang lebih mudah yaitu dengan cyber counseling yang memungkinkan konseli tidak merasa malu/canggung yang bisa dilakukan kapan dan dimana saja. Layanan bimbingan dan konseling dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya :
  1. Telepon
  2. Video-Phone
  3. Radio dan televisi
  4. Email
  5. Chatting
  6. Millis
  7. CD interaktif
  8. Web
  9. Blog
  10. E-Learning
  11. Situs Jejaring sosial
Dengan demikian pemanfaatan tekhnologi informasi dalam bk dapat menjadikan konselor lebih kreatif dan efektif dalam pemanfaatanya dan konselor juga lebih mdmahami tentang tekhnologi.

Jumat, 29 November 2019

Konseling multikultural


Konseling multikultural


Di era terbuka, global, bahwa mobilitas manusia dewasa ini baik dalam negeri maupun antar negara sudah menjadi kebutuhan. Konsekuensinya kehidupan manusia dalam suatu lokasi, daerah, atau negara tidak bisa dihindari semakin banyak warga lintas suku, bangsa, agama, budaya dan sebagainya. Kondisi inilah yang membuat fenomena multikultural menjadi realita yang harus kita hadapi semua. Dengan begitu konseling multikultural 
    Konseling multikultural sangatlah penting kehadirannya, terutama individu yang membutuhkan bantuan untuk menyelesaikan masalah maupun untuk pengembangan diri. Memang pada prakteknya tidak semua individu itu mampu menyelesaikan masalah sendiri dan mengetahui potensi diri dan tidak tahu untuk pengembangannya, sehingga individu tidak bisa tumbuh dan berkembang secara optimal. Untuk bisa  menyelesaikan masalah dan membangun pemenuhan kebutuhan diri, setiap individu ada yang bisa menyelesaikan sendiri, tapi ada juga membutuhkan bantuan pihak lain. Di sinilah  konseling multikultural menemui relevansinya.
    Konseling multikultural berkontribusi dalam memberikan layanan konseling yang lebih akurat. Karena secara konvensional, dalam melayani konseling kita lebih fokus pada masalah dan kebutuhan klien, namun dengan mempertimbangkan implementasi konseling multikultural, layanan konseling perlu mengetahuinya jati diri klien, pribadi, suku, ras, agama, budaya, jenis kelamin, status sosial ekonomi, lingkungan tempat tinggal dan sebagainya. Dengan memperhatikan realistis sosial budaya yang melingkupi kehidupan klien, insya Allah konselor bisa memberikan layanan konseling yang akurat dan memuaskan.
    Michael D’Andrea, Ed.D. (2017) telah menformulasikan ada 10 faktor yang dapat mempengaruhi efektivitas layanan konseling multikultural, yaitu (i) Identitas agama, (2) Latar belakang ekonomi, (3) Identitas seksual, (4) Kematangan psikologis, (5) Identitas etnik-ras dan kultur, (6) Tantangan selama pertumbuhan dan perkembangan (kronologis), (7) Trauma dan Ancaman lainnya terhadap diri konseli, (8) Sejarah dan dinamika keluarga, (9) Karakteristik fisik yang unik, dan (10) Lokasi tempat tinggal dan perbedaan bahasa.atau yg sering disebut RESPECTFULL. Jika konselor memperhatikan faktor-faktor ini, akan sangat terbantu pada saat awal-awal membangun rapport dan proses konseling selanjutnya, sehingga konseling bisa berlangsung lancar dan terarah serta memiliki kualitas layanan yang baik. Yang pada akhirnya dapat memberikan kepuasan baik terhadap klien maupun konselor.
    Untuk menjamin kelancaran dan kesuksesan praktek konseling multikultural, setidak-tidaknya menurut Craig Stutman (2019) ada sejumlah langkah yang harus dilakukan, yaitu (1) mendefinisikan konseling multikultural, dengan mengidentifikasi dan menghargai  perbedaan antara konselor dan klien, (2) mengidentifikasi perbedaan budaya, dengan mengetahui gaya berekspresi konseli untuk hindari misunderstanding, (3) memahami dan menunjuk issu konseling multikultural, sehingga intervensinya sensitif secara kultural, (4) memainkan peran diri konselor dalam konseling multikultural untuk menjamin efektivitas konseling, dan (5) pendidikan terus menerus dikehendaki dalam konseling multikultural, karena dinamika persoalan terus berubah.
    Untuk memberikan layanan konseling multikultural yang terbaik sangat dibutuhkan Konselor profesional yang memiliki kompetensi secara kultural. Menurut Sue (Hania etc:2011) ada tiga karakteristik, (1) Kesadaran akan dirinya, nilai, dan bias, (2) Memahami pandangan klien  yang berbeda secara kultural, dan (3) Mampu mengembangkan strategi dan teknik interventi yang sesuai. Dengan  begitu ada tiga kata kunci, yaitu konselor, klien, dan strategi. Semuanya bertumpu pada konselor, sejauh mana konselor secara kreatif bisa wujudkan layanan konseling multikultural yang efektif. Efektivitas layanan konseling multikultural sangat menentukan keberhasilan,sehingga utamanya memuaskan konseling.
    Akhirnya, sangatlah disadari bahwa setiap praktek layanan konseling di setting manapun, apakah konseling keluarga, konseling pendidikan, konseling karir, konseling anak berkebutuhan khusus, konseling anak berbakat, dan sebagainya, sudah seharusnya mempertimbangkan implementasi konseling multikultural. Dengan begitu diharapkan sekali layanan konselingnya bisa mencapai efektivitas dan efisiensi yang tinggi. Mengingat dalam hidup kita ini tidak bisa lepas dari masalah dan kebutuhan untuk tumbuh dan berkembang, maka konseling untuk semua menjadi suatu kebutuhan.karena pada dasarnya konselor harus memiliki wawasan yang luas serta pemikiran terbuka sehingga tidak mudah menyinggung ataupun tersinggung.selaras dengan pemikiran konseling multikultural yang notabene haruslah berfikir terbuka dan memiliki wawassn yang luas.

    Kamis, 21 November 2019

    Menurunya moralitas remaja"

           

    Moral remaja dari tahun ketahun terus mengalami penurunan kualitas atau mengalami degradasi. Dalam segala aspek moral, mulai dari tutur kata, cara berpakaian,tingkah laku dll. Degradasi moral ini seakan luput dari pengamatan dan kaca mata penilaian serta dibiarkan terus berkembang tanpa adanya penanggulangan secara intensif.
    Faktor utama yang mengakibatkan degradasi moral remaja ialah perkembangan globalisasi yang tidak seimbang dan kurang nya filtrasi dalam menginput budaya luar sehingga budaya luar dan budaya bangsa sendiri saling berbenturan yang mengakibatkan salah satu budaya yang terkikis dan ditinggalkan.Virus globalisasi terus menggerogoti bangsa ini. Sayangnya kita seakan tidak sadar, namun malah mengikutinya. Kita terus menuntut kemajuan di era global ini tanpa memandang (lagi) aspek kesantunan budaya negeri ini. Ketidak seimbangan itulah yang pada akhirnya membuat moral semakin jatuh dan rusak.
    Andai saja orang tua lebih memperhatikan tingkah anak anaknya fan mengajarkan oelajaran akhlaj dan sopan santun sejak dini mungkin Simbol kesantunan warga Indonesia-pun tudak terkikis pada generasi muda, yaitu remaja.Kalau sudah seperti ini lalu apa yang sebaiknya kita lakukan?
    Globalisasi yang terus menuntut kita untuk bermetamorfosa kadang memang membawa banyak dampak baik. Tapi jangan salah, dampak buruk pun mengikutinya di belakang. Coba sejenak kita amati foto-foto remaja tempo dulu. Kita nilai mereka dari aspek berpakaian. Sebagian besar mereka kelebihan bahan (tertutup). Memang ada satu dua yang memilih pakaian terbuka di era lalu, namun perbandingannya lebih banyak yang mengenakan pakaian tertutup. Kontras dengan kenyataan di abad 20 ini. Kalau dulu yang berpakaian memancing kebanyakan para pelaku entertainer, kalau sekarang tak peduli entertainer atau bukan sama saja.
    Sebenarnya hati ini semakin miris melihatnya. Sebagai seorang remaja, saya sendiri berpikir mau jadi apa bangsa ini kedepannya. Degradasi moral remaja sudah tak dihiraukan lagi. Bagaimana nanti saat dia dewasa? Takutnya nanti malah semakin menjadi. Terus bagaimana jalan negeri ini bila dipimpin oleh mereka yang kurang bermoral??
    Perlu diingat, yang menyerang moral remaja bukan hanya dalam cara berpakaian, namun masih banyak lagi. Tapi, baru kita mengamati cara remaja kini berpenampilan saja sudah membuat kepala jadi pusing. Belum jika kita melihat tingkah polahnya. Dunia narkoba, seks bebas, dan lainnya belum kita singkap.

    Rabu, 13 November 2019

    Layanan orientasi Bk

           
      
        Ada beberapa pengertian Layanan Orientasi, di antaranya:Menurut Drs. Tawil dalam Diktat Mata kuliah Dasar-Dasar Bimbingan Konseling;Layanan orientasi ditujukan bagi siswa baru dan pihak lain guna pemahaman dan penyesuaian diri terhadap lingkungan sekolah yang baru dimasuki[1].Menurut Prayitno Layanan orientasi yaitu layanan konseling yang memungkinkan klien memahami lingkungan yang baru dimasukinya untuk mempermudah dan memperlancar berperannya klien dalam lingkungan baru tersebut.Layanan orientasi mempunyai fungsi sebagai usaha pengenalan lingkungan sekolah sebagai lingkungan yang baru bagi siswa. Pengenalan-pengenalan lain yang dapat diberikan kepada siswa seperti kurikulum baru yang diterapkan sekolah, waktu proses belajar di sekolah. Pelaksanaan layanan orientasi ini berdasar pandangan bahwa memasuki lingkungan baru dan mengadakan penyesuaian bukanlah hal yang mudah (Prayitno & Amti, 1999).Layanan orientasi adalah layanan yang diberikan kepada siswa yang baru, dan jikaperlu melalalui orang tua siswa guna memberikan pemahaman dan memungkinkan penyesuaian diri terhadap lingkungan sekolah yang baru dimasukinya.Dari beberapa definisi di atas dapat kita simpulkan bahwa layanan orientasi adalah layanan yang diberikan kepada peserta didik baik baru maupun lama serta pihak-pihak lain untuk mengenal dan memahami keadaan dan situasi yang ada pada lingkungan sekolah secara umum agar peserta didik dapat dengan mudah menyesuaikan diri sebagaimana materi yang diberikan.

    Tujuan layanan orientasi adalah agar peserta didik dapat beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru secara tepat dan memadai. Sehinggapeserta didik akan lebih mudah dalam mengikuti kegiatan-kegiatan sekolah gunamencapai keberhasilan belajarnya.Tujuan program orientasi ialah untuk memberikan pengenalan kepada murid-muridtentang kegiatan dan situasi pendidikan yang akan ditempuhnya.


    Pelaksanaan Layanan Orientasi
          1. Metode yang dapat digunakan dalam pemberian layanan orientasi kepada    siswa dapat dengan ceramah, tanya jawab, diskusi, demonstrasi, program home room dan kunjungan.
          2. Media dan instrument dalam memberikan layanan orientasi dapat dilakukan dengan memberikan selebaran, penayangan video/ film maupun dengan slide seperti dalam power point.
        3. Penyelenggaraan
         Layanan orientasi dapat dilaksanakan pada :
         a. Hari orientasi baru;
         b. Pertemuan Umum;
         c. Pertemuan klasikal (pengenalan siswa pindahan,pengenalan kelas baru,dll)
          4. Materi Layanan orientasi
           Layanan orientasi diberikan terutama pada awal tahun pelajaran  siswa baru  yang meliputi hal-hal umum berikut :
         a.  Orientasi mengenai tata tertib sekolah,
         b.  Orientasi mengenai keadaan guru/karyawan,
         c.  Orientasi mengenai fasilitas belajar .
    Layanan bimbingan dan konseling hendaknya menekankan pada : (a) orientasi individual, (b) orientasi perkemangan siswa, dan (3) orientasi permasalahan yang dihadapi siswa,diatas merupakan pengertian secara singkat dari layanan orientasi dalam bimbingan dan konseling. Sebagai salah satu layanan yang diberikan seorang konselor terhadap para konselinya.