Jumat, 29 November 2019

Konseling multikultural


Konseling multikultural


Di era terbuka, global, bahwa mobilitas manusia dewasa ini baik dalam negeri maupun antar negara sudah menjadi kebutuhan. Konsekuensinya kehidupan manusia dalam suatu lokasi, daerah, atau negara tidak bisa dihindari semakin banyak warga lintas suku, bangsa, agama, budaya dan sebagainya. Kondisi inilah yang membuat fenomena multikultural menjadi realita yang harus kita hadapi semua. Dengan begitu konseling multikultural 
    Konseling multikultural sangatlah penting kehadirannya, terutama individu yang membutuhkan bantuan untuk menyelesaikan masalah maupun untuk pengembangan diri. Memang pada prakteknya tidak semua individu itu mampu menyelesaikan masalah sendiri dan mengetahui potensi diri dan tidak tahu untuk pengembangannya, sehingga individu tidak bisa tumbuh dan berkembang secara optimal. Untuk bisa  menyelesaikan masalah dan membangun pemenuhan kebutuhan diri, setiap individu ada yang bisa menyelesaikan sendiri, tapi ada juga membutuhkan bantuan pihak lain. Di sinilah  konseling multikultural menemui relevansinya.
    Konseling multikultural berkontribusi dalam memberikan layanan konseling yang lebih akurat. Karena secara konvensional, dalam melayani konseling kita lebih fokus pada masalah dan kebutuhan klien, namun dengan mempertimbangkan implementasi konseling multikultural, layanan konseling perlu mengetahuinya jati diri klien, pribadi, suku, ras, agama, budaya, jenis kelamin, status sosial ekonomi, lingkungan tempat tinggal dan sebagainya. Dengan memperhatikan realistis sosial budaya yang melingkupi kehidupan klien, insya Allah konselor bisa memberikan layanan konseling yang akurat dan memuaskan.
    Michael D’Andrea, Ed.D. (2017) telah menformulasikan ada 10 faktor yang dapat mempengaruhi efektivitas layanan konseling multikultural, yaitu (i) Identitas agama, (2) Latar belakang ekonomi, (3) Identitas seksual, (4) Kematangan psikologis, (5) Identitas etnik-ras dan kultur, (6) Tantangan selama pertumbuhan dan perkembangan (kronologis), (7) Trauma dan Ancaman lainnya terhadap diri konseli, (8) Sejarah dan dinamika keluarga, (9) Karakteristik fisik yang unik, dan (10) Lokasi tempat tinggal dan perbedaan bahasa.atau yg sering disebut RESPECTFULL. Jika konselor memperhatikan faktor-faktor ini, akan sangat terbantu pada saat awal-awal membangun rapport dan proses konseling selanjutnya, sehingga konseling bisa berlangsung lancar dan terarah serta memiliki kualitas layanan yang baik. Yang pada akhirnya dapat memberikan kepuasan baik terhadap klien maupun konselor.
    Untuk menjamin kelancaran dan kesuksesan praktek konseling multikultural, setidak-tidaknya menurut Craig Stutman (2019) ada sejumlah langkah yang harus dilakukan, yaitu (1) mendefinisikan konseling multikultural, dengan mengidentifikasi dan menghargai  perbedaan antara konselor dan klien, (2) mengidentifikasi perbedaan budaya, dengan mengetahui gaya berekspresi konseli untuk hindari misunderstanding, (3) memahami dan menunjuk issu konseling multikultural, sehingga intervensinya sensitif secara kultural, (4) memainkan peran diri konselor dalam konseling multikultural untuk menjamin efektivitas konseling, dan (5) pendidikan terus menerus dikehendaki dalam konseling multikultural, karena dinamika persoalan terus berubah.
    Untuk memberikan layanan konseling multikultural yang terbaik sangat dibutuhkan Konselor profesional yang memiliki kompetensi secara kultural. Menurut Sue (Hania etc:2011) ada tiga karakteristik, (1) Kesadaran akan dirinya, nilai, dan bias, (2) Memahami pandangan klien  yang berbeda secara kultural, dan (3) Mampu mengembangkan strategi dan teknik interventi yang sesuai. Dengan  begitu ada tiga kata kunci, yaitu konselor, klien, dan strategi. Semuanya bertumpu pada konselor, sejauh mana konselor secara kreatif bisa wujudkan layanan konseling multikultural yang efektif. Efektivitas layanan konseling multikultural sangat menentukan keberhasilan,sehingga utamanya memuaskan konseling.
    Akhirnya, sangatlah disadari bahwa setiap praktek layanan konseling di setting manapun, apakah konseling keluarga, konseling pendidikan, konseling karir, konseling anak berkebutuhan khusus, konseling anak berbakat, dan sebagainya, sudah seharusnya mempertimbangkan implementasi konseling multikultural. Dengan begitu diharapkan sekali layanan konselingnya bisa mencapai efektivitas dan efisiensi yang tinggi. Mengingat dalam hidup kita ini tidak bisa lepas dari masalah dan kebutuhan untuk tumbuh dan berkembang, maka konseling untuk semua menjadi suatu kebutuhan.karena pada dasarnya konselor harus memiliki wawasan yang luas serta pemikiran terbuka sehingga tidak mudah menyinggung ataupun tersinggung.selaras dengan pemikiran konseling multikultural yang notabene haruslah berfikir terbuka dan memiliki wawassn yang luas.

    Kamis, 21 November 2019

    Menurunya moralitas remaja"

           

    Moral remaja dari tahun ketahun terus mengalami penurunan kualitas atau mengalami degradasi. Dalam segala aspek moral, mulai dari tutur kata, cara berpakaian,tingkah laku dll. Degradasi moral ini seakan luput dari pengamatan dan kaca mata penilaian serta dibiarkan terus berkembang tanpa adanya penanggulangan secara intensif.
    Faktor utama yang mengakibatkan degradasi moral remaja ialah perkembangan globalisasi yang tidak seimbang dan kurang nya filtrasi dalam menginput budaya luar sehingga budaya luar dan budaya bangsa sendiri saling berbenturan yang mengakibatkan salah satu budaya yang terkikis dan ditinggalkan.Virus globalisasi terus menggerogoti bangsa ini. Sayangnya kita seakan tidak sadar, namun malah mengikutinya. Kita terus menuntut kemajuan di era global ini tanpa memandang (lagi) aspek kesantunan budaya negeri ini. Ketidak seimbangan itulah yang pada akhirnya membuat moral semakin jatuh dan rusak.
    Andai saja orang tua lebih memperhatikan tingkah anak anaknya fan mengajarkan oelajaran akhlaj dan sopan santun sejak dini mungkin Simbol kesantunan warga Indonesia-pun tudak terkikis pada generasi muda, yaitu remaja.Kalau sudah seperti ini lalu apa yang sebaiknya kita lakukan?
    Globalisasi yang terus menuntut kita untuk bermetamorfosa kadang memang membawa banyak dampak baik. Tapi jangan salah, dampak buruk pun mengikutinya di belakang. Coba sejenak kita amati foto-foto remaja tempo dulu. Kita nilai mereka dari aspek berpakaian. Sebagian besar mereka kelebihan bahan (tertutup). Memang ada satu dua yang memilih pakaian terbuka di era lalu, namun perbandingannya lebih banyak yang mengenakan pakaian tertutup. Kontras dengan kenyataan di abad 20 ini. Kalau dulu yang berpakaian memancing kebanyakan para pelaku entertainer, kalau sekarang tak peduli entertainer atau bukan sama saja.
    Sebenarnya hati ini semakin miris melihatnya. Sebagai seorang remaja, saya sendiri berpikir mau jadi apa bangsa ini kedepannya. Degradasi moral remaja sudah tak dihiraukan lagi. Bagaimana nanti saat dia dewasa? Takutnya nanti malah semakin menjadi. Terus bagaimana jalan negeri ini bila dipimpin oleh mereka yang kurang bermoral??
    Perlu diingat, yang menyerang moral remaja bukan hanya dalam cara berpakaian, namun masih banyak lagi. Tapi, baru kita mengamati cara remaja kini berpenampilan saja sudah membuat kepala jadi pusing. Belum jika kita melihat tingkah polahnya. Dunia narkoba, seks bebas, dan lainnya belum kita singkap.

    Rabu, 13 November 2019

    Layanan orientasi Bk

           
      
        Ada beberapa pengertian Layanan Orientasi, di antaranya:Menurut Drs. Tawil dalam Diktat Mata kuliah Dasar-Dasar Bimbingan Konseling;Layanan orientasi ditujukan bagi siswa baru dan pihak lain guna pemahaman dan penyesuaian diri terhadap lingkungan sekolah yang baru dimasuki[1].Menurut Prayitno Layanan orientasi yaitu layanan konseling yang memungkinkan klien memahami lingkungan yang baru dimasukinya untuk mempermudah dan memperlancar berperannya klien dalam lingkungan baru tersebut.Layanan orientasi mempunyai fungsi sebagai usaha pengenalan lingkungan sekolah sebagai lingkungan yang baru bagi siswa. Pengenalan-pengenalan lain yang dapat diberikan kepada siswa seperti kurikulum baru yang diterapkan sekolah, waktu proses belajar di sekolah. Pelaksanaan layanan orientasi ini berdasar pandangan bahwa memasuki lingkungan baru dan mengadakan penyesuaian bukanlah hal yang mudah (Prayitno & Amti, 1999).Layanan orientasi adalah layanan yang diberikan kepada siswa yang baru, dan jikaperlu melalalui orang tua siswa guna memberikan pemahaman dan memungkinkan penyesuaian diri terhadap lingkungan sekolah yang baru dimasukinya.Dari beberapa definisi di atas dapat kita simpulkan bahwa layanan orientasi adalah layanan yang diberikan kepada peserta didik baik baru maupun lama serta pihak-pihak lain untuk mengenal dan memahami keadaan dan situasi yang ada pada lingkungan sekolah secara umum agar peserta didik dapat dengan mudah menyesuaikan diri sebagaimana materi yang diberikan.

    Tujuan layanan orientasi adalah agar peserta didik dapat beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru secara tepat dan memadai. Sehinggapeserta didik akan lebih mudah dalam mengikuti kegiatan-kegiatan sekolah gunamencapai keberhasilan belajarnya.Tujuan program orientasi ialah untuk memberikan pengenalan kepada murid-muridtentang kegiatan dan situasi pendidikan yang akan ditempuhnya.


    Pelaksanaan Layanan Orientasi
          1. Metode yang dapat digunakan dalam pemberian layanan orientasi kepada    siswa dapat dengan ceramah, tanya jawab, diskusi, demonstrasi, program home room dan kunjungan.
          2. Media dan instrument dalam memberikan layanan orientasi dapat dilakukan dengan memberikan selebaran, penayangan video/ film maupun dengan slide seperti dalam power point.
        3. Penyelenggaraan
         Layanan orientasi dapat dilaksanakan pada :
         a. Hari orientasi baru;
         b. Pertemuan Umum;
         c. Pertemuan klasikal (pengenalan siswa pindahan,pengenalan kelas baru,dll)
          4. Materi Layanan orientasi
           Layanan orientasi diberikan terutama pada awal tahun pelajaran  siswa baru  yang meliputi hal-hal umum berikut :
         a.  Orientasi mengenai tata tertib sekolah,
         b.  Orientasi mengenai keadaan guru/karyawan,
         c.  Orientasi mengenai fasilitas belajar .
    Layanan bimbingan dan konseling hendaknya menekankan pada : (a) orientasi individual, (b) orientasi perkemangan siswa, dan (3) orientasi permasalahan yang dihadapi siswa,diatas merupakan pengertian secara singkat dari layanan orientasi dalam bimbingan dan konseling. Sebagai salah satu layanan yang diberikan seorang konselor terhadap para konselinya.